DOKTRIN AQIDAH SYIAH IMAMIYAH ( Selasai)

SYIAH_Agama_Kedustaan

KH. Ahmad Ilham Masduqie

Para sahabat senior tersebut dituduh Abdullah bin Saba’ sebagai musuh-musuh S Ali ra karena telah menduduki kursi ke-khalifah-an yang seharusnya (menurut Ibn Saba’) adalah milik S Ali ra.

Faktanya, S Ali ra justru mendukung ke-Khalifah-an Tiga khalifah tersebut dengan dibuktikan S Ali ra melibatkan dalam pemerintahan yang dipimpin tiga khaligah tersebut. Karena itu Sayyid Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib (cucu S Ali ra) mengutuk Abullah bin Saba’ dan fitnah jahatnya berupa doktrin al-Washy untuk menggantikan kepemimpinan sepeningal Rasulullah Saw.

Al-Kisyi mengakui kutukan Sayyid Ali bin Husen tersebut di dalam kitabnya “Ma’rifat al-Naqilin al-Aimmah al-Shadiqin” sebagi berikut:

لعن الله من كذب عليا اني ذكرت عبدالله بن سباء فقامت كل شعرة من جسدى لقد ادعى أمرا عظيما ماله لعنه الله كان علي رضي الله عنه والله عبدا لله صالحا أخو رسول الله ما نال الكرامة من الله إلا بطاعته (رجال الكشي، ١٠٨

“mudah-mudah Allah mengutuk orang yang berdusta atas nama kami (Ahlu al- Bayt). Sungguh aku teringat Abdullah bin Saba’, maka setiap rambut pada kuduku berdiri. Sungguh dia telah membuat-buat sesuatu yang luar biasa. Mudah-mdah Allah mengutuknya. Dan Ali ra, demi Allah, dia adalah hamba yang Shaleh, saudara Rasulullah Saw, tidaklah ia dapat kemulyaan dari Allah kecuali karena ketaan beliau pada-Nya. (Rijal al-Kisyi, hal. 108). Dikutip  dari Ushul Madzhab Syiah al-Imamiyah al-Istna ‘Asyariyyah, Dr Nashir bin Abdullah, hal. 72-73).

Diakalangan tokoh Syiah kontemporer, dimana dari tinjauan segi sejarah, antara mereka dan peristiwa Abdullah bin Saba’, sudah lewat 1000 tahun lebih, mencoba-coba untuk memungingkari keberadaan Abdullah bin Saba’, dengan seribu satu dalil yang tidak ilmiah.

Tetapi hal ini tak urung dapat bantahan oleh penelitihan sesama tokoh syiah kontemporer sendiri.  Adalah Muhammad Husen al-Zayn dalam bukunya, “al-Syiah wa al-Tarikh”. Sejumlah tokoh-tokoh Syiah terdahulu selain empat tokoh di atas, masih banyak yang mengakui keberadaan sosok  Abullah bin Saba’, semisal al-Mazandarani dalam “muntaha al-Maqal”, al-Istirbadzi dalam “Manhaj al-Maqal”, al-Ardabili dalam “Jami’ al-Ruwat”, al-Huly dala “al-Rijal”, al-Tusturi dalam “Qamus al-Rijal”, al-Thusi dalam “Rijal al-Ruhu al-Faqih”, al-Majlisi dalam “Bihar al-Anwar”, dll (Ushul al-Madzhab al-Syiah hal. 76).

Jika aqidah “al-Washy” dan Dhzalimnya tiga khalifah terdahulu serta semua sahabat yang mendukungnya, adalah ide dari Abdullah bin Saba’. Adapun konsep “Ishmah” (makshumya para imam-imam) merupakan perkembangan dari ide Abdullah bin Saba’, yang dikembangkan tokoh-tokoh Syiah pada sekitar tahun 229 H.

Tujuan diciptakan aqidah Ishmah adalah untuk mensakralkan riwayat-riwayat palsu yang diciptakan tokoh-tokoh Syiah untuk mendukung ide Abdullah bin Saba’. Dengan demikian mereka bisa menutup semua pintu agar tidak ada jalan untuk menentang hadits-hadits palsu, dan harus diterima oleh para pengikut Syiah secara mutlak.  Riwayat-riwayat tersebut pada umumnya dinisbatkan kepada Imam al-Baqir dan Imam Ja’far al-Sadiq.

Munculnya konsep Ishmah dengan keburukannya ini diungkap oleh tokoh Syiah yang sudah beratubat Dr. Musa al-Musawi dalam bukunya “al-Syiah wa al-Tahshih” (hal, 14-15).  Dr. Musa adalah satu diantara sekian banyak tokoh-tokoh Syiah di Iran yang betubat dan kemabali pada ajaran Islam.

Disamping membuat hadits-hadits palsu, tokoh-tokoh Syiah juga memanfaatkan beberapa hadits shahih dari kalangan Ahlussunnah untuk dijadikan penguat argumentasi penguat ide Abdullah bin Saba’, dengan cara membelokkan mankana hadits sebenarnya kepada makna hadits yang dikehendaki, jauh dari makna aslinya.

Dampak Aqidah Washyi

  1. S Abu Bakar ra, S Umar ra dan S Ustman serta seluruh pendukung kekhalifahannya dituduh sebagai orang-orang dhzalim, bahkan sebagaian tokoh-tokoh Syiah membuat predikat Kafir.
  2. Lahirnya aqidah “Bara’ah” (cuci tangan serta tidak mau menerima segala yang datang dari sahabt-sahabat Rasulullah Saw yang dituduh dhzalim tersebut, lalu menafikan sifat “‘adalah” (kejujuran yang maksimal para sahabat).
  3. Al-Mushaf al-Ustmani (Kitab Suci al-Qur’an yang beredar di tangan kaum muslimin), hasil pengumpulan para para Sahabat dimasa Khalifah S Abu Bakar ra, yang kemudian ditindak lanjuti pada khalifah Ustman. Maka berdasarkan ajaran Abdullah bin Saba’, tidak bisa dipertanggung-jawabkan kemurnian teks al-Qur’an atau kebenaran penafsirannya, karena tuduhan dhzalim dan murtad.
  4. Hadits-hadits Rasulullah Saw yang berada di tangan mayoritas kaum Muslimin (yg termuat dalam Shahih Bukhari-Muslim dll) tidak bisa dipertanggung-jawabkan ke-shahihannya, karena semua berasal dari riwayat para sahabat-sahabat Nabi Saw yang dituduh dzhalim.

 

Penjelasan

Tuduhan dan predikat Dzhalim kepada S Abu Bakar, S Umar dan S Ustman ra serta para sahabat yang mebaiat ketiga khalifah tersebut, maka hal ini adalah kesepakatan seluruh tokoh Syiah baik yang terdahulu maupun belakangan.

Bahkan dalam kitab Syiah terdahulu seperti al-Kafi, al-Ishtibshar, al-Ihtijaj, Man La Yadhuruhu al-Faqih dll, memuat hal hal tersebut, bahkan sampai menuduh para sahabat Rasulullah Saw sebagai orang-orang kafir.

Adapun tokoh-tokoh Syiah zaman sekarang semisal Murtadhla al-Asykari menyebut tiga khalifah adlah imam-imam sesat dan pelopor yang mengajak ke dalam neraka (Ashlu al-Syiah wal Ushul, hal. 14). Muhammad Ridhla al-Mudzaffar dlam bukunya Aqaid al-Imamiyah menyisipkan kalimat “wa I’tiqaduhu bil ghasbihim li haqqihi” (S Ali yakin bahwa khalifa sebelum beliau adalah merampok hak beliau). Hal ini senada dengan pernyataan Ibrahim al-Musawy al-Zanjani dalam bukunya “Aqaid al-Imamiyah”.

Muhammad Husen Ali Kasyif al-Ghitha dalam bukunya Ashlu al-Syiah wa al-Ushul halaman 47 dengan bahasa diplomatis, mengatakan bahwa bila S Ali menolak berbaiat kepada para Khalifah tersebut, maka bisa berakibat timbulnya tindakan para khalifah yang membayakan Islam, bahkan bisa menjebol Islam dari fondasinya.

Artinya, komentar Ayatullah Kasyif al-Ghitha ini dengan beraninya membohongi para pengikut Syiah bahwa S Ali ra adalah sosok picik dan penakut. Sehingga S Ali ra terpaksa berbaiat kepada tiga Khalifah  terdahulu  sekalipun harus mencapmakkan serta menghianati wasiat Nabi Saw demi kedamian Islam. Ini sangat kontradiktif, dimana keberanian dan jiwa kesatria S Ali Ra saat itu, sehingga tidak berani melawan dan mengorbankan jiwa raga  untuk melestarikan wasiat Nabi Saw. Mengapa dengan jiwa ketakutan itu, lalu S Ali ra membuat-buat alasan supaya ketiga khalifah tersebut tidak menjebol Islam, seandainya beliau menolak berbaiat kepada mereka?.

Bukankah alasan yang dibuat-buat oleh al-Ghitha yang dinisbatkan kepada S Ali sama saja dengan menuduh S Ali, jika wasiat tersebut dilaksanakan, bisa berakibat jebolnya Islam. Artinya wasiat Nabi Saw tidak tepat dan tidak bermanfaat bagi Islam, atau malah sebaliknya.

Sungguh pernyataan Kasyif al-Ghitha sangat keterlaluan. Ini adalah wujud penghinaan kepad S Ali ra Senior Ahlul Bayt, sekaligus juga merupakan penghinaan kepada Rasulullah Saw sebagai pemberi wasiat.

Khumaini dalam bukunya Kasyf al-Asrar dengan bahasa arogan, banyak melakukan kecaman-kecaman kepada S Abu Bakar ra dan S Umar ra. Misalnya ia menuduh kedua khalifah tersebut sama sekali tidak memperhatikan Islam dan al-Qur’an, kecuali hanya dengan tujuan epentingan duniawi dan kepemimpinan. Diakatak juga mereka berduan telah berani menambah dan mengurangi al-Qur’an (Kasyf Asrar  tetjemahan dr bahasa Persi ke bahasa Indonesia, hal. 129-139)

S Ali ra menjawab isu adanya wasiat Nabi Saw yang diciptakan Abdullah bin Saba’ sebagai berikut:

فأما أن يكون عندي عهد من النبي صلى الله عليه وسلم فى ذالك فلا، والله لئن كنت أول من صدق  به لا أكون أول من كذب عليه ولو كان عندي عهد من النبي صلى الله عليه وسلم فى ذالك ما تركت أخا تميم بن مرة و عمر بن الخطاب يقومان على منبره  ولقاتلتهما بيدى ولو لم اجد الا بردتي هذه  (المشرع الرويلي فى مناقب السادة  الكرام باعلوي ١٥٥/١)

Adapun adanya (isu bahwa) saya memegang wasiat dari Nabi Saw tentang kepemimpinan sepeninggal beliau, adalah tidak benar. Demi Allah, kalau sesungguhnya aku orang pertama-tama membenarkan (kenabian) beliau, maka tidaklah aku menjadi orang yang pertama-tama bedusta atas nama beliau. Seandainya aku memegang wasiat dari Nabi Saw dalam hal tersebut, maka aku tidak akan membiarkan Abu Bakar dan Umar bin al-Khatthab berdiri di atas mimbar beliau (menjadi khalifah) dan pasti aku memerangi keduanya dengan kedua belah tanganku sendiri, walau aku tidak emnemukan teman kecuali hanya jubahku ini.. (al-Masra’ al-Rawi, juz 1, hal. 155).

Dikutip dalam Buku “SYIAH AGAMA KEDUSTAAN”, Karya KH. Ahmad Ilham Masduqie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s